Senja

Posted in Cerpen Aja, Goresan sederhana on January 2, 2010 by Miranda Modjo

Pada senja ini aku menanti.
Sebuah jawaban untuk hati.
Saat mataku menatap senja kutahu waktu hampir usai.
Takutkah aku bertemu dengan malam? Ragukah aku berhadapan dengan pagi..karena yang kutahu hanya senja.
Warna langit yang memerah, bercampur kelabu yang akan terganti dengan gelap.

Aku sadar tak seharusnya senja yang aku nanti, tapi aku kadung mencintai.
Semua orang menyuruhku beranjak untuk menanti pagi.
Pagi akan selalu penuh harap.

Akhirnya aku putuskan beranjak dari senjaku.
Bukan karena aku tidak lagi ingin dikatakan gila.
Bukan pula karena waktu yang mengejar.
Semua karena ingin meletakan pada harapan baru, pada pagi.

Meski ragu terus menghadang, tapi kucoba untuk beranjak.

7 Bulan

Posted in Serial Si GenDut with tags , , on December 11, 2009 by Miranda Modjo

(Serial si Gendut yang rada serius dikit)

Tidak ada yang special dengan tujuh bulan. Saya tidak sedang hamil dan akan nujuh bulanan lalu mengadakan pengajian biar anak yang ada dalam kandungan saya menjadi anak yang soleh,. Saya kan belum punya suami, jadi belum bisa mengandung.
Terus kenapa harus kasih judul 7 bulan? Karena banyak yang saya lewati selama 7 bulan ini. Atau dapat dikatakan 7 bulan yang lalu ada perubahan besar yang saya alami.

7 bulan yang lalu saya belum memiliki investasi apapun, sekarang setidaknya saya sudah memiliki hunian kecil bertingkat di bilangan Jakarta Timur. Meski masih lama akan saya tempati dan PPJB pun belum berlangsung, saya sudah cukup puas. Setidaknya hampir 5 tahun kerja ada hasilnya, meski rada terlambat juga yang untuk menghasilkan sesuatu untuk masa depan.

Maklum saya bukan seorang yang jago berencana. Tahu sendirikan impian saya cuman bisa jadi SLIM seperti Djarum Black Slim. Rencana untuk masa depan sendiri saya tidak memiliki. Target karir tidak ada, kapan menikah gimana alam, apalagi kapan memiliki anak, itu mah kuasa Tuhan. Jadi melakukan investasi dalam bentuk sebuah asset adalah hal yang luar biasa bagi saya. Wong tabungan aja tidak ada. Heran??? Rada ngaco??? Yah begitulah saya menjalani hidup, hanya untuk 1 HARI.
Besok yah gimana besok.

Oke kembali ke 7 bulan.

7 bulan yang lalu saya di-syok-kan oleh sebuah berita sore, Ibu saya dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa. Padahal paginya saya baru bertemu dan mengatakan :
“Sehat-sehat yah mak! Jangan sakit lagi! Cepat sembuh!”
Dia hanya menatap saya dengan mata berkaca seraya menjawab,
“iya De.”

Jujur, ada getaran lain yang saya bisa rasakan dari tatapan ibu saya. Tapi saya tidak bisa menerjemahkan getaran itu. Seperti kata Marcell, Firasat. Selama di kantor saya gelisah, tapi tidak tahu kenapa dan harus bagaimana. Saya hanya tertawa, tertawa dan tertawa.

Ibu saya pergi dengan senyumnya yang cantik. Yah harus diakui ibu saya memang cantik, kulitnya halus, wajahnya mulus, keriput di wajahnya tidak menandakan usianya sudah memasuki 60 tahun. Menarik lebih lama, begitulah wajah ibu saya.

Setelah melewati 7 bulan kepergiannya, saya masih tetap tidak bisa mengekspesikan perasaan yang ada. Hampa? Tidak juga! Sedih? Iya tapi sulit mengungkapkan kesedihan itu. Ikhlas? Iya mungkin hanya itu yang bisa saya jawab. Saya ikhlaskan kepergiaan ibu karena selalu teringat wajah senyumnya di hari terakhir.

Bagaimana saya melewati 7 bulan ini?

Saya tetap tertawa, berdiri dengan tegar dihadapan Bapak saya, tanpa banyak airmata yang keluar. Saya seperti mengganggap bahwa semuanya tetap sama. Minimal dalam sebulan saya mengunjungi makamnya, sekalian menemani bapak. Bila ada rasa kangen saya doakan dan mengirimkan surat Yassin. Hanya itu! Karena dalam pikiran saya hanya itu yang mampu saya perbuat.

Saya tidak mampu menangisinya. Saya tidak mampu meratapinya. Saya tidak mampu membayangkan kehidupan masa depan saya tanpa ibu saya. Saya tidak mampu berpikir bagaimana persiapan pernikahan saya suatu hari kelak. Saya tidak bisa kecewa karena nanti saat saya akan berumah tangga tidak ada di yang membimbing.

Saya jadi teringat, betapa hebohnya dia saat persiapan pernikahan abang saya. Sampai-sampai setiap bertemu dengan saya selalu berselisih pendapat. Saya ini memang anak pembrontak, selalu mendebat ibu saya. Tapi entah mengapa yang ada dipikiran saya setiap hari adalah bagaimana membuat dia senang.

Menemani dia jalan-jalan ke tempat yang tidak biasa ibu-ibu mengajak putrinya jalan-jalan.
Kami jalan-jalan ke Asemka-Kota, Mangga Dua, Jatinegara, Tanah Abang, pasar Senen atau pasar ular. Ke mall??duh susah ngajak dia kesana. Ga mau!

Pernah sekali waktu saya mengajaknya ke mall, Plaza Semanggi, mall terdekat dari kosan saya. Dengan niat hati ingin membelikan sesuatu untuk ibu dan bapak saya. Saya sudah mengajaknya mutar-mutar keliling-keliling tidak ada satu barang yang dia suka. Semua dia bandingkan,
“De, baju kayak gini mah di Tanah Abang banyak, lebih murah.”
“De, ini mahal amat mana bahannya biasa aja.”
Dan berbagai komentar yang ia lontarkan bahwa mangga dua, tanah abang memiliki barang yang lebih baik. Padahal kalau dirumah dia suka bilang,
“ih mama mah ga pernah belanja ke mall.”
Karena kalimat itu lah saya berniat mengajaknya ke mall.

Pernah lagi waktu itu, saya mendapatkan bonus dari kantor, lalu saya mengambil cuti untuk mengajak jalan-jalan. Saya tawarilah ibu hendak kemana.

“Mah, jalan-jalan yuk? Mama mo kemana?”
“Mo traktir?”
“Iya!”
“Boleh. Kita ke senen aja yuk, udah lama mama ga ke senen.”

Jangan mikir dia pengen ke Atrium Senen, dia pengennya ke Pasar Senen.

Kehilangan ibu bukan harus diratapi, mengasihani diri sendiri. No…no..no…black in action alias berkabung. Cukup diikhlaskan, didoakan dan dikenang hal-hal yang indah.
Karena begitu cara saya berpikir, hal-hal yang buruk tentang hubungan saya dengan ibu saya hilang begitu saja dari ingatan saya. Padahal ketika dia masih hidup, saya selalu mengingat hal-hal yang buruk terjadi diantara kami.

Cheers ^__^

Impianku

Posted in Serial Si GenDut with tags , , , on December 3, 2009 by Miranda Modjo

Siapa bilang aku tidak memiliki impian. Tentu saja impianku ada. Aku coba membuka kembali lembaran masa lalu, seperti Mama Loren yang dapat melihat masa depan, aku si Mama Loreng mampu melihat masa lalu. Anda ingin tahu apa yang terjadi di masa lalu anda? Ketik reg spasi Mama Loreng anda akan mengetahui langsung dari otak anda apa yang sudah terjadi di masa lalu. Maaf-maaf kalo rada ngaco. Ini hanya basa basi untuk mengulur waktu lebih lama sebelum akhirnya aku mengatakan imipianku.

Tunggu!! Boleh kan aku mengaca dulu?

Weeeekkkssss itu bukan badanku….emang aku si Gendut tapi kayaknya ga segendut ini deh. Ini mah maha dahsyat. Kalo aku??? Hhmmm yah memang sih setiap bagian tubuhku ada lemak yang menimbun. Hitung-hitung nimbun cadangan lemak buat jaga-jaga kalo aja ntar susah nyari nasi. Yah kita tahulah pemuda sekarang berapa banyak yang mau jadi petani. Mereka mikir jadi PETANI kapan makmurnya. Padi dihargai murah banget eh pas beli beras jadi mahal. Petani ga pernah untung. Pemuda sekarang lebih senang kerja di kantor, pabrik bahkan ber-urbanisasi ke kota biar liat gedung bertingkat ama ke mal. Nah kalo dalam keadaan itu aku bisa ongkang-ongkang kaki karena aku tidak akan dilada kekurusan.

Iya…iya di paha ada timbunan lemak, tangan kayak tukang pukul, pinggang wwwiiiiuuuhhh ada ongakan lipatan daging yang membentuk seperti tangga, perut jangan tanya kayak hamil 3 bulan. Tapi jelas aku ga gendut-gendut amat cuman sintal.

Dalam sejarah hidupku, menjadi slim adalah impianku. Bisa dibilang cita-cita yang belum tercapai. Eh, aku pernah kok kurus waktu aku masih kecil, kata ibuku, aku itu anak yang susah makan. Yah dari foto-foto masa kecil memang terlihat aku kurus. Tapi tidak terlalu kurus juga.

Jadi bila ada yang bertanya apa impianku? Dengan tegas aku akan menjawab aku ingin SLIM…yah Black Slim.. tidak-tidak slim aja tanpa black, aku udah gendut jangan ditambah dengan black, cukup slim. Kalo black slim mah Djarum Black …. Djarum Black Slim…hehehehhehe

Enwie, menjadi kurus bisa jadi sebuah impian kan? Atau cita-cita?

Demikian sekilas monolog aku, Si Gendut. hehehehehe. Garing yah monolognya???? ah biasa aja namanya juga monolog, ngomong ama diri sendiri.

Tenang nanti aku pasti aku terus bercerita tentang kehidupanku yang Gendut ini.
Sekarang aku mo tidur dulu yah mo mupuk lemak lagi.

Haruskah orang Tahu pacar Gw?

Posted in Refleksi, iseng-iseng with tags , , on November 29, 2009 by Miranda Modjo

Jangan kaget dengan tulisan yang se’nga itu. Tentu bukan untuk kalian pertanyaan itu. Terus untuk siapa dong? Yahhh Wanda (wah nda tahu!)

Tanpa disadari pengakuan memiliki pacar menjadi suatu hal yang penting dalam kehidupan sosial muda mudi. Yah agak aneh aja kalo ada AKI-AKI tiba-tiba pembicaraannya tetang pacar baru.

Mungkin memiliki pacar akan menaikkan strata sosial seseorang. Atau akan diterima dalam pergaulan, seperti merokok di kalangan pemuda SMU, – Lo Ngerokok Lo Cowok, Kalo engga Lo Banci -. Mungkin punya pacar kayak gitu juga.

Waktu gua ketemu dengan teman-teman SMP gua dalam sebuah acara reunian. Ada pertanyaan teman gua yang sungguh mengugah selera gua untuk makan -makan orang-.
Teman : “Siapa pacar lo sekarang?”
Gua : sigh *ngelengos pergi*

Pas gua ketemu teman SMA gua di kereta, tiba-tiba dia bisa membuat gua tersenyum manis (baca sinis) mendengar pertanyaan dia.
Teman : ” Udah married lo?”
Gua : geleng-geleng sambil milit-milit ujung rambut
Teman : “Sekarang pacar lo sapa?”
Gua : tiba-tiba pengen lompat dari pintu kereta sayang bukan naik

Gua dah gaya lah dengan atribut pekerjaan gua di sebuah bank swasta asing. Keren lah pokoknya! (narsis.com) Gua juga bangga udah pindah-pindah kerja, yang menandakan gaji gua dah berkali-kali lipat naik (padahal kagak, mereka ketipu aja ama gaya gua). Dengan jalan se-anggun mungkin (padahal gua ga lagi nyanyi Tua-tua Keladi -jahhhh ketauan deh umur gua-) dengan bunyi high heals -padahal ga pernah pake- tak tok tak tok gua jalan-jalan ke mall. Di mall yang terkenal itu se-Jakarta Raya gua ketemu teman kuliah gua. Seperti biasa terjadi percakapan basa basi.
Teman : “Eh apa kabar?”
Gua : “Baik, lo?”
Teman : ” Kerja dimana?”
Gua : *bangga* “Di bank.”
Teman : “Anak lo dah berapa?”
Gua : Mingkem aksi tutup mulut sambil mesem-mesem. “Belum.”
Teman : ” Terus kapan married?”
Gua : *mulai sewot* “Kapan-kapan kalo ga ujan.”
Teman : “Ah lo bisa aja. Pacar lo anak mana?”

Oh My God, segitu penting yah orang untuk tahu siapa pacar gua!!!!

Belum lagi infotaiment pasti selalu mengusut artis x pacaran dengan sapa? artis b pacaran dengan artis c. Artis D baru putus pacar. Yang diurusin cuman pacar-pacar artis. Yang diinformasikan ke penonton cuman pacar mereka. Yang mengakibatkan penonton ga tahu prestasi artis itu. Jangankan prestasi main sinetron apa aja belum tentu tahu.

Jadi itu yang membuat pengakuan akan “Pacar” memang penting. Itu bawaan alami manusia. Lagian siapa yang ga bahagia punya pacar dan pengen membagi kebahagiaan itu kepada setiap orang. Menceritakan bunga-bunga cinta yang belum layu. Kalo perlu si Pacar dikasih label milik “Gua” xixixixixi….

Hari ini, saat hujan turun dengan deras membasahi perjalanan Jabotabek tanpa Bekasi, gua naik kereta AC, yang sudah barang tentu pintunya bisa ditutup juga jendelanya. Kereta sore itu penuh, gua pun ga dapat duduk. Emang sih AC kereta makin terasa dingin karena cuaca diluar dingin.

Bisa dibayangkan ga, ujan-ujan ditempat ber-AC disamping ada kekasih tercinta…hhhmmmmm dirangkul mantap yah bo???
Setuju?? Setuju???

Kalo di mobil pribadi rangkul-rangkul ada genggaman tangan sih asyik-asyik aja….tapi di kereta ???

Duhhh gua ngomongin apa sih???

Gua lagi ngebahas rangkul-rangkulan sambil bisik-bisik tetangga yang nyaris kayak cium-ciuman telinga -yaks- di depan ibu2, bapak2, anak kecil pengguna jasa transportasi kereta.

Yap! Sore ini, ujan2 pemandangan yang gua dapat adalah itu. Mending kalo yang begitu emak-emak yang lagi nostagia dengan suaminya, eh mana ada yang emak2 yang udah berojolin anak 2 masih ganjen depan umum. Ini masih muda, perkiraan gua paling usia si cewek 23an begitu juga si cowo.

Mereka berdua kayaknya takut banget ga keliatan pacaran, ampe rangkul-rangkul tanpa jarak, bisik2 tetangga yang nyaris kayak ciuman. Tapi dari semua yang buat gua gerah adalah ceweknya menggunakan Jilbab. Miris amat ngeliatnya. Aaarrrgghhhhh pusing gua ngeliatnya.

Tenang bukan karena iri, sirik gua ampe saat ini masih jomblo. Tapi apa harus ditempat umum yah. Apa harus ditunjukkin banget kalo mereka sedang memadu kasih.

Cerita gua diatas memperkuat anggapan gua bahwa pengakuan akan memiliki seorang pacar itu sangatlah penting. Hal ini menunjukkan strata sosial dalam masyarakat. Mo naik strata sosial bukan lagi dilihat dari pendidikan, jabatan, kekayaan tetapi PACAR!

Gua ingin Jadi SELEB

Posted in Refleksi, iseng-iseng with tags , , , on November 25, 2009 by Miranda Modjo

Dulu cita-cita gua pengen jadi artis, sebenarnya sampai sekarang juga sih. Tapi entah napa gua ga pernah melakukan ritual usaha untuk bisa menjadi seorang artis. Mungkin ga ada kesempatan. Hehehehe.

Kalimat di atas pasti akan dengan serta merta bilang bokis oleh orang-orang yang udah kenal gua. Karena ada fakta-fakta yang membuktikan itu semua tipu muslihat gua :

1. Gua takut ama kamera, alias ga suka difoto apalagi disorot untuk di-video-in, gua bisa mendadak kayak kura-kura nyembunyiin kepala gua ke dalam ketek.

2. Secara fisik gua sangat sadar tidak masuk pada katagoti artis yang bakal jadi seleb. Gua ngaca, badan jauh dari katagori langsing tapi dibilang gendut sangat juga belum.
Nah coba perhatiin pemain sinetron masa kini yang menghiasi layar kaca. Kalau ga langsing dengan t*k*k segunung hasil suntik, pasti gendut tak terkira ampe kalau naik angkot kudu bayar buat 2 orang. Nah body gua ada diantara itu jadi susah mo kasih peran. Gua sebutnya body tanggung.

3. Gua ga gaya a.k.a ga fashionable. Coba deh inget-inget ga ada toh artis yang ga fashionable. Baju gua ga jauh-jauh dari kaus, jeans, celana panjang ama celana pendek yang sudah tentu tanpa merek.

Buat orang yang baru kenal gua mereka pasti menganggap cita-cita gua cemen banget cuman pengen jadi artis. Tapi mereka rata-rata percaya gua bercita-cita itu. Seringkali keluar kalimat mendukung diri gua agar terkenal. Kenapa juga mereka percaya gua bercita-cita jadi artis :

1. Gua jelas memiliki wajah yang cantik, dengan catatan dilihat hanya sampai sebatas leher. Kulit gua halus dan mulus tanpa sisik kayak ikan.

2. Gua orang yang ekspresif saat bercerita, banyak orang yang tertipu oleh raut wajah gua yang serius padahal gua sedang berkata bohong.

3. Gua pernah ikutan audisi untuk jadi bintang iklan…meski gua gak tau iklan apa itu, mungkin iklan obat panu atau kudis. Hah…gua tau iklan yang selalu mencantumkan kalimat:
“ Dulu badan saya begini (memapangkan foto saya dengan bobot tubuh yang sedikit berlebih) tentu anda tidak ingin memiliki tubuh seperti ini (foto saya lagi yang terpampang) coba diet tanpa efek samping –tapi efek depan-.”

4. Kata 1009 orang bilang gua mirip seorang artis yang udah ga pernah muncul dan hampir-hampir tidak dikenal. Eits jangan bilang Mpok Nori dia mah terkenal!

Kurang lebih ini adalah fakta-fakta ke-artis-an gua.

Arrgggghhhh sebenarnya gua mo ngebahas apa sih??? Gua cuman mo bilang tidak sedikit orang bercita-cita ingin jadi artis atau seleb tapi tidak banyak yang mau usaha untuk main sinetron, nyanyi, bintang iklan atau bahkan main film. Kebanyakan orang hanya berkhayal untuk dapat terkenal.

Semua juga tahu keunggulan menjadi artis atau seleb adalah terkenal. Diantara 10 orang kira-kira 5 orang diantaranya ingin jadi terkenal (asumsi tanpa survey a.k.a asal ngarang aja gua!). Tentu banyak cara orang melakukan sesuatu agar terkenal. Menjadi yang terpandai di kelas. Mengikuti perlombaan bakat. Bintang sekolah, menjadi jagoaan basket dsb.

Dalam dunia kerja pun bisa menjadi seleb (baca terkenal) tanpa harus main sinetron. Banyak cara dari berteman dekat dengan orang yang terkenal. Bergaul dengan kalang jetset. Eh ini pan bukan dunia kerja tapi dunia pergaulan yak.

Di dunia kerja, bisa jadi terkenal karena prestasi kerja, karena cantik luar biasa –padahal permakkan semua-, selalu tampil seksi yang menggoda mata-mata pria, pacaran dengan atasan, atau menjadi orang yang baik hati dan rajin menolong. Dijamin pasti jadi seleb kantor. Apalagi kalo buat skandal di kantor wiiiiiihhhhhh langsung jadi digosipin tiap hari.

Di dunia maya juga bisa jadi seleb. Udah banyak yang terbukti, salah satunya Raditya Dika. Awalnya cuman nulis iseng-iseng diblog, curhat ketololan dan kebodohan lama-lama orang banyak yang suka dengan cerita dia sampai akhirnya dibuat buku dan alhasil Dika terkenal. Dalam pikiran gua yah Dika jadi seleb karena dia nulis buku, sering di wawancara sampai bukunya dibuat film, wajar dong Dika jadi seleb.

Gua rada-rada ga mudeng waktu teman gua cerita tentang seorang blogger (jgn tanya sapa gua dah ga inget) plus dia mengatakan orang tersebut adalah seleb blog.

Hah??!!! Blogger juga ada selebnya toh. Trus apa yang menjadi indicator blogger tersebut jadi seleb? Main sinetron apa?.. Aktingnya bagus?… yeah kok akting yah… maksudnya tulisan dia bagus? Dahsyat, fenomenal? Yang mampir banyak? Yang komentar banyak?? Bisa memberi inspirasi?

Terus terang gua rada ga paham dengan seleb blogger ini. Mungkin karena alasan2 yang gua sebut tadi orang itu jadi SELEB.

Gua penasaran, ada sebuah alamat blog (ga perlu disebut jelas karena gua lupa alamat blog itu) yang komentar selalu banyak, balas berbalas, wah keren dah. Dan ga sedikit gua nemuin blog kaya gitu. Iseng-iseng gua baca komentar-komentarnya. Alamak yang kasih koment orang itu-itu mulu. Si pemilik blog dan si komentator balas-balasnya diblog itu. Tapi kalo di liat blog statnya wwuuuiiiihhhh JAYA deh maksudnya angkanya menakjubkan. Sampai si pemilik blog tersebut merasa terkenal. Merasa tulisannya sebuah kelayakan untuk dibaca oleh semua orang.

Tapi kembali lagi, apakah sebuah jaminan blog yang pengunjungnya banyak memiliki kualitas tulisan yang berbobot. –yaelah ini cuman blog ngapain kudu berbobot-. Buat gua iya, tulisan diblog itu ga blh salah ngecap kayak tukang obat. Terutama bagi yang menulis tentang isu-isu umum, seperti nulis tentang KPK, Polisi atau apapun isu yang sedang hangat. Karena gua selalu takut salah nulis, makanya gua ga pernah nulis tentang isu umum. Karena gua ga tahu efek tulisan gua itu bisa seperti apa…gua ga bisa liat reaksi langsung orang yang baca, kalo orang tersebut terprovokasi dengan tulisan gua…alamak itu bahaya…syukur tulisan gua bisa mencerahkan.

Mungkin banyak yang tidak sadar tulisan itu mengandung kekuatan magis yang mampu mempengaruhi orang lain. Makanya ada etika dalam menulis, ada etika jurnalis, dan gua yakin ada etika dalam nge-blog. Jangan sampai tulisan iseng-iseng di blog malah berbuah tuduhan buat kita.

Duhhhhh gua dah nulis panjang-panjang yang entah apa gua tulis di lembaran ini. Tulisan yang mungkin bisa buat gua terkenal kali yah?…hahahahah…kidding!!!

Gua cuman mo berbagi keliaran pikiran gua. So mari menulis dengan hati dan kejujuran. Kita bukan sastrawan, bukan juga sejarahwan, Kita hanya orang yang suka menulis…tulisan dengan hati lah yang akan membuat tulisan kita berguna untuk orang lain.

Selamat ngeblog!!!

*Happy Anniversary buat blog teman gua…buat yang jeli and ngikutin blog dia pasti merasakan perubahan suasana hati si penulis….si frozzy*

  • Rasa Kopiku

    Berjalan cerita cerpen cinta cinta terlarang crossing my mind Dead Dongeng emak-emak feeling Hapiness Heaven iseng-isengan jalan-jalan jodoh Kebahagiaan kehidupan khayalan Kista k Sahabat lagu sherina lajang Love madu masa lalu melompat membingungkan My Mom My Pray nulis Pangeran Kodok Pekerjaan Penyakit perkosaan poligami puisi Puisi coret-coret rasa Refleksi Resah sabar sakit saksi termenung tersenyum
  • Menghitung Hari

    February 2010
    M T W T F S S
    « Jan    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728