Mimpi

Hanya mimpi yang membuatku bertahan.
Bertahan untuk tak menitikan airmata
Bertahan untuk tak bunuh diri

Hanya mimpi yang membuatku tetap tersenyum
Menegukkan rasa pahit hingga terasa manis

****

Kuteguk cangkir kopi dihadapanku. Aku sudah lupa ini hari apa. Telah lama kutepis makna sebuah hari. Bagiku, bagi duniaku tak ada ubahnya senin, selasa atau sabtu. Setelah hampir 1 jam aku berkutat dengan keasyikanku sendiri, kuangkat sedikit kepalaku untuk melihat apa yang terjadi disekitarku. Ternyata coffee shop ini telah ramai. Seingatku, tadi hanya dua meja yang terisi dan menjadi tiga dengan aku yang duduk di salah sudut coffee shop ini. Meja-meja telah penuh dengan pasang muda mudi. Mata-mata penuh cinta bertaburan mengalahkan taburan bintang di langit. Aku iri? Ada sebersit rasa itu, karena aku duduk sendiri, di sudut yang tersembunyi hanya bersama secangkir kopi dan sepotong donat.

Aku pandangi gadget-gadget yang mungkin dapat membuat orang yang melihat menjadi iri. Karena semua model gadget berada di tanganku. Tertawa aku bila tanpa sengaja aku bertatapan dengan mata yang memandang iri. Dalam hati aku berkata, “untuk apa kalian iri, aku hanya bersama benda mati sedangkan kalian sedang bersama mahluk hidup dan yang lebih beruntung kalian sedang bersama yang terkasih.” Benda mati tak akan dapat disetarakan dengan mahluk hidup manapun. Apalagi disetarakan dengan orang yang dicintai. Tak ada kebanggaan bagiku dengan segala benda mati ini, ini semua hanyalah penggusir sepiku.

****

Aku dan kamu.

Begini rasanya berpisah darimu. Jiwaku seakan membeku. Tak akan aku sebut mati. Karena selalu ada cinta dan kasih pada sudut terpojok hatiku. Dia hanya membeku, terpagarkan, tersembunyi atau mungkin berkarat. Setiap hari yang aku bunuh adalah waktu. Waktu-waktu dimana aku menunggu kamu pada sebuah halte lalu beranjak menyusuri trotoar sekedar mencari jajanan kaki lima untuk mengisi perut.

Tanpa sadar aku dan kamu telah mengisi banyak sudut waktu bersama hingga lupa menghitung waktu yang hilang untuk orang lain. Fokusmu adalah waktuku. Fokusku adalah waktumu.

Seringkali aku mempertanyakan telah kubuang kah waktu-waktuku untuk kuhabiskan bersamamu? Hanya sebuah entah yang mampu aku jawab. Entah mengapa aku begitu rela memberi waktuku. Entah mengapa aku begitu menikmati ketika kita saling menyatukan waktu.

Dari awal, saat cinta itu bersemi dihatiku yang kutahu hanya waktu yang aku miliki darimu. Waktu yang mungkin hanya sehari, sebulan atau setahun. Waktu yang pada kenyataannya telah menjadi tiga tahun lebih mungkin. Aku tak pernah dapat memiliki kamu, memiliki masa depanmu, memiliki hidupmu. Sehingga tanpa kita sadari, kita hanya berpegang pada waktu untuk menyatukan bulir-bulir kasih yang mengalir tanpa mampu kita cegah. Berharap waktu yang akan memutuskan jalinan kasih itu. Berharap bila waktu itu tiba tak akan ada pedih menghampiri. Aku dan kamu.

Pada suatu sudut hidup kita berdua, tanpa kita sadari ada tali tipis yang menghubungkan sudut-sudut yang berjarak. Tali tipis inilah yang mempertemukan kita kembali. Menghadiri sebuah senyum dan tawa pada hari kita. Menitikkan air mata pada ketidakkuasaan aku dan kamu melawan kenyataan. Sering kumempertanyakan mengapa harus terhubung dengan kamu.

Mengapa ada sebuah tali tipis yang menghubungkan sudut-sudut bumi yang memperjarak aku dan kamu tanpa sebuah kabar, tanpa sebuah kata mengenal. Atau mengapa tali itu baru saja memperpendekkan jarak antara sudut hidupmu dan sudut hidupku. Mengapa tidak dulu, saat aku masih sangat ranum, saat kamu masih sungguh gagah.

Mengapa wajah kita baru bertemu saat kenyataan lain telah berada disisimu. Seribu…seribu tanya bahkan lebih dalam otakku yang mampu menggilakanku, mencabut akal warasku. Aku dan kamu. Tak ada jejak yang dapat kita pandangi, setelah waktu berhasil pelan-pelan memotong tali-tali itu, memperjarakkan aku dan kamu kembali, mengembalikan aku dan kamu pada sudut-sudut bumi yang tersembunyi satu dengan yang lain. Sudut yang melemahkan kemampuan penglihatan.

Jahatkah waktu?
Mungkin bagiku jahat. Bagiku waktu terlalu mengejek hidupku. Mencemoohkan perasaanku. Tapi mungkin bagi Sang Pemilik Alam, waktu adalah keadilan hidup.

Kejujuran dan jawaban bagi semua pertanyaan hidup. Aku menyerah. Hanya ada kata maaf dariku, karena aku tak akan mampu melawan waktu. Itu sama saja aku melawan badai nestapa hanya dengan bermodal perisai.

****
Aku dan Aku pada sudut hidup.

Wahai hatiku yang sepi. Apa kabar kamu? Semoga kamu masih sanggup untuk bertahan. Bertahan menikmati rasa sepi. Bertahan untuk mendingin tanpa suatu sentuhan kehangatan. Aku tidak bisa menjanjikan kapan penghangat itu hadir kembali. Bisa jadi esok ada sebuah tangan yang menyentuh kamu lagi, tapi mungkin 1 atau bahkan 3 tahun yang akan datang.

Wahai hatiku yang sepi. Maafkan aku. Maafkan aku yang seringkali salah mencintai orang. Salah memilih tangan yang menghangatkanmu. Salah memilih cinta untuk hadir menceriakanmu.

Hanya maaf yang dapat aku utarakan padamu. Karena aku tidak tahu lagi apa yang mampu aku lakukan untuk membuatmu tidak sepi lagi. Membuatmu hangat penuh cinta dan kasih.

Wahai hatiku yang sepi. Aku hanya dapat memberikanmu mimpi. Mimpi yang dapat membuat kita berdua masih memiliki senyum. Mimpi yang mampu membuat kita menikmati rasa pedih, perih dan sepi. Mimpi yang memberikan kita pengharapan baru setiap hari, meski di malam hari kita menemukan mimpi itu tak akan menjadi kenyataan pada hari ini, tapi dengan mimpi kita akan berharap untuk esok hari.

Wahai hatiku yang sepi. Mari kita saling menggenggamkan tangan agar bertahan. Mungkin waktu menunggu kita akan lebih lama dari sebelumnya. Mungkin kita tidak akan lagi bertemu dengan orang seperti dia yang benar-benar menghancurkan dingin dan sepinya kita berdua. Orang yang menyiramkan cinta dan kasih secara penuh meski dibatasi oleh waktu.

Wahai hatiku yang sepi. Aku mengajakmu untuk berdoa agar Sang Pemilik Alam mempercepat waktunya untuk kita bertemu dengan tangan yang menghangatkan itu.

****

Dari earplugku, terdengar lagunya Adele, Someone Like You. Kukemaskan semua gadgetku. Pulang adalah pilihan yang terbaik sebelum airmata ini menetes.

Never mind I find someone like you I wish nothing but the best for you “Don’t forget me,” I begged
“I’ll remember,” you said
“Sometimes it last in love but sometimes it hurts instead”

Sekelebat Kata

Haaaiiissssshhhhhh

Aku rindu. Rindu duduk santai sambil meliarkan pikiranku. Rindu untuk memusingkan kepalaku dengan merangkai-rangkaikan kata, memainkan imajinasi liarku akan sesuatu hal.

Saat ini terlalu penuh rasanya kepalaku, karena keliaran itu hanya terendap dalam pikiran. Aku tahu pikiran itu mulai meronta-ronta ingin segera dikeluarkan, dicetuskan dalam lembaran kata.

Keliaran benakku mulai memasuki fase kedewasaan. Karena keliarannya mulai merambah pada kehidupan-kehidupan yang berhasil kutangkap dengan mata kepalaku.

Sulit aku menuliskan cerita cinta lagi. Mengkhayalkan cinta kasih yang sempurna.

Intinya aku rindu…rindu mengisi lembaran blogku di tengah-tengah kesibukan yang memuncak.

*ketjup*

Dibalik Tembok

Sungguh aku penasaran apa yang kamu lakukan di balik tembok itu. Tembok yang bersisian dengan rel kereta. Biasanya kamu bersembunyi dibalik tembok, sewaktu-waktu kamu munculkan kepalamu dari lubang yang ada pada beberapa bagian sejalur tembok. Selalu dengan pakaian seksi yang begitu menurutmu, hotpants atau rok span yang sulit untuk kamu ajak berlari serta kaos berwarna mencolok yang super ketat. Terkadang kamu mengenakan tanktop atau “u can see”.

Ada rasa penasaran dengan kemunculanmu dari balik tembok pada malam yang cukup remang karena penerangan jalan yang seadanya. Terbesit pada pikiranku, lampu remang pada sisi jalan tempatmu berdiri memang sengaja dibuat agar yang tampak hanya seluwetmu.
Tidakkah kamu lelah semalaman berdiri di trotoar? Menantikan sebuah ketidakpastian. Menawarkan keindahan yang dipaksakan. Kamu bersama teman-teman tetap sabar berdiri, sesekali kamu bersembunyi ke balik tembok. Aku tidak dapat melihat apa yang kerjakan di balik tembok itu. Sekedar duduk beralaskan koran untuk meluruskan kakimu yang sudah pegal? Atau menerawangkan pikiranmu dengan sebatang rokok yang mungkin dulu tidak kamu suka.

Apakah yang aku tunggu?
Cinta?
Kemesraan?
Atau sekedar lembar rupiah agar kamu tetap hidup esok?
Atau sebuah kewajiban terpaksa yang telah mengikatmu jauh sebelum kamu mengerti tentang apa yang kamu kerjakan hari ini?

Malam ini kebetulan aku melalui sejalur tembok dimana kamu biasa berdiri di sisi trotoar. Tak henti mataku memandang kearahmu hingga kamu menghilang dari pandanganku karena berlalunya kendaraanku. Kamu berdiri dengan celana pendek ketat yang hanya menutup selangkangan dan pantatmu serta kaos ketat berwarna orange mencolok yang membentuk pinggang dan buah dadamu. Kamu tidak pernah sendiri selalu beramai-ramai. Kamu yang berbadan sintal, kamu yang bertubuh kecil tapi berisi, kamu yang bertubuh semampai, kamu yang berdada besar, dan kamu yang belum tumbuh payudaranya. Selalu pada sisimu berhenti seorang pria dengan motor. Aku mencoba menebak, mungkin terkadang pria-pria itu mangkal disisi jalan tempatmu berdiri.

Siapakah pria-pria itu?
Temanmu kah?
Baru kamu kenalkah?
Yang menerima tawaran kemesraan sesaatmu kah?
Atau pengantarmu kepada pria yang mencari kemesraan sesaatmu?

Dimana kemesraan itu terjadi?
Di balik tembok itukah kemesraan dimulai? Sekedar berbincang-bincang dengan sebotol air mineral atau teh ditemani gorengan serta sebungkus rokok yang telah mual kamu hisap? Lalu berlanjut pada sebuah kamar yang pengap yang telah disediakan oleh orang-orangmu? Pada sebuah motel?
Tapi jangan sebut dibalik tembok itu dengan hanya beralaskan koran. Atau langsung menuju ranjang tanpa sebuah perkenalan.

Sungguh aku penasaran apa yang kamu lakukan di balik tembok itu. Tembok yang bersisian dengan rel kereta. Biasanya kamu bersembunyi dibalik tembok, sewaktu-waktu kamu munculkan kepalamu dari lubang yang ada pada beberapa bagian sejalur tembok. Selalu dengan pakaian seksi yang begitu menurutmu, hotpants atau rok span yang sulit untuk kamu ajak berlari serta kaos berwarna mencolok yang super ketat. Terkadang kamu mengenakan tanktop atau “u can see”.

Kamu, pada malam yang remang entah sampai jam berapa terus mencari kemesraan sesaat, mencari puing-puing rupiah untuk hidupmu. Tanpa lelah, membuang rasa risih, rasa malu, rasa takut, rasa perih.

Aku hanyalah seorang penonton, yang menyaksikan kamu berdiri pada malam itu, menyaksikan kamu berbincang dengan pria bermotor yang entah diakah yang membutuhkan kemesraan atau dia membantu orang lain untuk mencarimu karena orang itu yang membutuhkan kemesraanmu. Tak dapat aku bayangkan perih hatimu, sakitnya tubuhmu. Masihkah kamu dapat tersenyum di hari pagimu?

Kamu tahu?
Tak perlu kamu pikirkan orang-orang yang menghinamu, karena mereka tidak tahu apa yang kamu jalani. Bagaimana kamu bisa sampai pada trotoar sisi tembok itu. Mereka tak tahu pahitnya harimu. Tetaplah tegar hatimu dan tersenyum meski palsu. Yakinlah dunia pada saatnya akan berputar, dan roda hidup akan berada diatas. Yakinlah Tuhan itu ada, meski kamu telah melupakanNya. Meski bagimu sungguh takdir itu tak adil. Tetaplah tersenyum. Karena Tuhan itu tetap ada.
Sabarlah kamu karena duniamu suatu hari akan berubah. Karena harimu suatu hari akan berganti. Perihmu akan terhapuskan. Sakitmu akan terobati meski jawbannya adalah kematian. Tunggulah kemesraan sejati akan menghampirimu. Aku tahu kamu sudah tidak percaya. Aku tahu kamu bahkan telah muak. Jangan pernah berhenti berharap. Kudoakan kehidupan sejati tanpa kamuflase akan kamu peroleh.

*Untuk para perempuan yang setiap malam berdiri di trotoar sisi rel*

Gedung Itu

Matanya terus memandang ke arah gedung itu, bukan sebuah gedung bertingkat apabila lagi mewah. Bangunan itu hanya berlantai satu dengan ruang yang banyak. Laki-laki tanggung itu mendengus, seakan-akan hidup sudah sungguh sial baginya.

Ia sedang berbicara dengan pikirannya sendiri nampaknya. Dahinya mulai berkerut sepertinya pikirannya telah berkelana.

Aku itu iri sama mereka. Mentang-mentang tampangku bringas dan jorok, bukan berarti aku tidak ingin merasakan itu semua. Duduk didalam dengan tenang. Tertawa-tawa penuh keceriaan tanpa harus memikirkan penatnya kota. Berlari-lari mengitari gedung itu atau memanjat pohon mangga yang ada di halamannya. Mimpi di siang hari bolong kusebut itu semua.

Aku menyadari apa yang orang katakan kepadaku, masayarakat sampah. Tampang memang sudah selayak sampah apalagi bau tubuhku, menyengat bau busuk, ditambah daki-daki yang kian menempel erat dengan kulit legamku. Tapi bukan berarti aku tidak ingin seperti mereka. Bukan berarti aku puas dengan kebodohan otakku. Sungguh aku membencinya.

Ia merogoh sesuatu dari kantong celananya. Sebuah rokok ia sematkan diujung bibirnya. Entah siapa yang mengajarinya, mungkin awalnya ia hanya meniru orang dewasa, lalu coba-coba dan akhirnya terbiasa. Rokok racikannya sendiri, yang ia linting dari tembakau-tembakau sisa yang dibuang oleh orang-orang. Rasanya sudah tentu tidak karuan tapi itu cukup baginya. Sambil ia isap rokok lintingan matanya tetap terpukau pada gedung itu. Gedung yang bagi menyimpan harapan untuk bisa bermain.

Kampret emang orang-orang kaya. Aku cuman minta kemewahan yang ada di gedung itu. Buat mereka mungkin gedung itu mungkin membosankan, mungkin jauh dari kemewahan tapi bagiku sungguh mahal harganya.

Lamunannya terus bergulir dengan memaki terhadap hidupnya yang baru sejumput. Matanya mulai memancarkan amarah yang tak terarah. Memuakkan segala nasib yang tidak ia pilih. Baginya hidup menjadi tidak adil.

“Monyet!! Napa loe injek kaki?? Anjing!” Makinya terhadap seorang bocah yang melintas tanpa ia sadari.
“Loe yang anjing, setan! Siapa suruh loe taro kaki loe di jalan. Ngalangi orang mau lewat. Loe yang MONYET!” Bocah itu balas memaki.
“Tai!! Pergi loe sana! Loe beruntung gua lagi ga minat ngegebuk orang.”
“Loe yang tai, ngelamun aja gaya orang bego.” Balas bocah itu sambil berlalu.

Hidup baginya cukup keras. Di usianya yang masih tanggung, ia telah melihat banyak hal. Ia tidak sudah lupa untuk tertawa apalagi bermain. Ia hanya kenal tonjokan, hajaran dan makian. Semua orang berperan untuk memakinya, ada atau tiada kesalahan yang sudah ia lakukan.

Ia kembali menghisap rokok yang entah apa rasanya.


Mereka bilang aku belum pantas untuk merokok. Pernah suatu ketika ada seorang wanita yang memarahiku karena rokok ini. Padahal dia kenal aku pun tidak. Bahkan orang yang tak kukenalpun sibuk memakiku. Sial hidupku ini. Tapi rokok ini paling nikmat untuk temanku melamun, terutama saat aku memandang gedung itu. Peduli setan dengan makian orang yang mengatakan aku terlalu kecil untuk merokok, toh mereka bantu aku apa? Kasih aku makan? Kasih aku baju? Kasih aku uang Rp 1000 aja berat bagi mereka. Seringnya aku hanya mendapatkan lambaian tangan dan malamnya aku dapat lagi lambaian yang mendarat di pipiku dari bos dan bapakku, ditambah makian dari ibuku.

Ibuku memang bangsat. Dia cuman tahu buat anak. Anak sudah 5 saja, hampir setiap malam aku dengar desahan napsu. Sial memang ibu itu. Bahkan dia tidak tahu cara memberi aku makan. Aku disuruh cari makan sendiri dengan cara terserah. Tapi lebih setan bapakku, dia cuman tahu berjudi. Mana dia tahu cara buat aku untuk bisa baca, berhitung apalagi menyekolahkanku. Kerjanya seharian cuman minta uang setoran dari aku. Syukur kalau dia lagi rajin, dia akan pura-pura jadi orang cacat dan mengemis di lampu merah.

Padahal impianku sederhana, bisa masuk ke gedung itu dan duduk didalamnya. Aku tidak keberatan meskipun hanya satu tahun aku bisa ngerasakannya, tidak perlu sampai 6 tahun.

Tapi apa yang bapakku katanya. Kalau aku masuk di gedung itu nanti aku bpintar lalu aku akan jadi koruptor. Persetan jadi koruptor toh tidak akan masuk penjara tetapi masih hidup penuh kemewahan. Bapakku itu memang tolol, mana ada koruptor yang dipenjara lama-lama. Justru yang diuber-uber kamtib itu pengemis. Boro-boro dapat sel mewah, yang ada digebukin.

Rokok di tangannya telah habis, ia masih sibuk dengan lamunan matanya masih belum lepas dari gedung itu.

“Eh anak monyet!! Loe jangan ngelamun mulu, kerja lo! Awas kalau setoran lo kurang!” Teriak seseorang padanya. Orang yang ia sebut bos.

Dengan enggan ia berdiri dari balok yang sedari tadi ia duduki. Ia harus mencari uang kalau ia tidak mau digebuk si bos atau bapaknya.

Secarik Kertas

Hai kamu, boleh saja sudah lama kita saling menyapa, saling berpapasan, saling berbicara, tapi pembicaraan kita kali ini rasanya sungguh berbeda

Sederhana saja yang ada dibenakku, yaitu aku mulai memperhatikanmu. Kapan itu dimulai? Aku tidak tahu. Sedetik yang lalu? Aku rasa itu sangat berlebihan. Dapat aku pastikan aku memperhatikanmu bukan nanti atau esok tapi mungkin kemarin lalu dan sudah pasti hari ini. Aku sendiri bingung dengan keinginan untuk memperhatikanmu, ingin menemuimu. Sehari saja tidak berbincang denganmu meski sejenak rasanya hariku menjadi tidak lengkap.
Bolehkah aku menyatakan aku suka padamu?

Ginsha menemukan secarik kertas di mejanya, dengan wajah kebingungan ia membaca baris-barisnya tulisan yang membuatnya tersipu malu. Wajah lugu tersipu malu terpancar hingga membuat orang yang melihatnya langsung memandang heran.

“Napa muka lo tiba-tiba merah gitu Sha?” tanya Nisa sembari lewar di depan kubikel Ginsha.
“Kagak ade ape-ape, biasa aja.” tegas Ginsha yang langsung berusaha menutupi raut wajah tersipunya.

Setelah ia merasa tidak ada lagi orang yang memperhatikan, ia kembali membaca secarik kertas. Ia sedang membayangkan siapa gerangan yang meletakkan kertas ini di mejanya. Berkali-kali ia membaca, tulisan pada kertas itu jelas bukan puisi, bukan pula sengaja, bukan pula sekedar tulisan iseng tak bermakna. Atau mungkin kertas ini bukan ditujukan untuknya. Mungkinkah sebuah ketidaksengajaan kertas ini tergeletak begitu saja di atas meja. Akhirnya setelah isi kertas itu bermain-main di benaknya ia memutuskan bahwa kertas ini bukan untuknya.

Ia kembalikan konsentrasinya pada tumpukkan kertas dihadapannya. Ia berusaha keras mengabaikan pikirannya dari secarik kertas tersebut. Pikirannya pun melayang,
“Andai kertas itu ditujukan kepadaku, pastinya orang tersebut romantis.”
“Tidak tahukah ia bahwa belum ada orang yang menyatakan perasaannya sesederhana dan segamblang ini”
“Andai pertanyaan itu untukku, aku bersedia untuk disukai.”

****

Tinto tak bisa berkonsentrasi kerja, pikirannya ,melayang ke kubikel yang berada di ujung kantor ini. Rasanya sungguh jauh kubikel itu. Dia sibuk menduga-duga apakah gadis berkerundung yang imut itu sudah membacanya? Dari tadi ia salah menjawab pertanyaan atasannya, semua jawabannya tidak nyambung, masih syukur kerjaannya tidak berantak.

Gadis berkerudung yang belakangan ini menjadi pusat perhatian pikirannya. Awalnya tidak pernah ia terpikir tentang gadis itu, baginya gadis itu hanyalah sebatas rekan kerja. Tapi yang ia heran kenapa orang-orang sekantor menjodoh-jodohkan dia dengan gadis itu. Mungkinkah gadis itu menyukainya.

Beberapa kali ia mencoba untuk menghampiri, sekedar mencari tahu apakah gadis itu memiliki ketertarikkan padanya, akan tetapi ia tidak menemukan tanda-tanda tersebut. Mungkin ia saja yang merasa terlampau GeRe. Rasa penasarannya yang mendorongnya hingga ia sampai saat ini kerap menghampiri. Sekedar pura-pura menanyakan pekerjaan, sekedar pura-pura lewat lalu menyapa, bilamana ia beruntung ia bisa mengobrol sedikit lebih lama 5 atau 10 menit cukup lama untuk dilakukan disela-sela pekerjaan.

Tetapi buah penasaran itu berkembang lebih dari yang ia harapkan, ada rasa yang kuat untuk menghampirinya. Ada semangat baru untuk menjelang pekerjaan yang membosankan. Ada yang kurang bila gadis itu tidak masuk kerja.

Akhirnya semalam Tinto memutuskan untuk menuliskan sedikit perasaannya pada gadis itu, hanya untuk mengetahui reaksinya. Sudah terlewat kuno di zaman yang serba teknologi ini menyatakan perasaan melalui surat, bila secarik kertas itu dapat dikatakan surat. Tetapi ia bingung hendak memulai dari mana, gadis itu terlalu cuek dan sibuk dengan dirinya sendiri.

Tinton beranjak dari kursinya, ia menghampir gadis itu, Ginsha. Ia harus mencari tahu reaksi Ginsha setelah membaca secarik kertas yang tadi pagi ia tinggalkan diatas meja. Beruntung tadi saat hendak meletakkan tidak ada siapa-siapa di sekitar kubikel Ginsha, jadi ia bebas meletakkan kertas tersebut.

“Hey Mba, serius amat kerjanya?” tanya Tinto mengejutkan Ginsha.
“Ah kagak, bukannya gua biasa kerja serius.”
“Bener-bener pegawai yang baik.”
“Hihihihi.” tawa renyah Ginsha membuncah dibenak Tinto.

Matanya mengawasi meja kerja Ginsha, mencari-cari secarik kertas yang ia letakkan. Ia tidak menemukan, mungkinkah Ginsha sudah membacanya. Tinto bingung bagaimana menanyakan kertas tersebut.

“Mba, lo liat ada kertas ga disini tadi?” Tinto memberanikan diri bertanya.
“Kertas apaan To?”
“Kertas kecil gitu deh, tapi ga sengaja ketinggalan waktu gua minjem pulpen dari meja lo.”
“Emang isinya apa?” Ginsha mulai deg-degan, apakah secarik kertas itu yang dicari Tinto. Apakah Tinto pemilik kertas tersebut.
“Puisi-puisi norak gitu deh.”
“Jeileb” mendadak hati Ginsha cenat cenut. Tiba-tiba lagu Sma*sh bernyanyi-nyanyi di otaknya.

Ginsha sibuk berpikir apakah perlu ia berikan kertas itu dan mengatakan bahwa ia membaca. Kalau kertas itu bukan untuknya sungguh malu ia tadi sudah merasa berbunga-bunga saat membacanya. Kalau kertas itu dituju untuknya sungguh Tinto bukan orang yang ia harapkan untuk menuliskan kata-kata sederhana itu.

“Yee si Mba malah bengong, lihat ga?” kata Tinto membuyarkan lamunannya.

Akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikan kertas itu.

“Ga nyangka yah lo puitis juga?”
“Masa sih segitu puitis? Lo dah baca dong?”
“Maaf yah gua baca tadi habisnya gua ga tahu itu kertas punya siapa.” kata Ginsha sembari mengambil kertas tersebut dari tasnya.

“Ginsha meletakkan kertas itu kedalam tas, berarti dia suka dengan tulisan pada secarik kertas tersebut.”

“Nih, kertas lo.”
“Makasih yah, mau gua kasih ke orangnya. Tapi bagus ga tulisannya.”
“Bagus kok.”

Dengan mantap dan penuh keyakinan serta keberanian yang berlipat ganda, Tinto menyodorkan kertas itu kembali ke Ginsha.

“Ini buat lo aja Sha.” Ia lupakan embel-embel “Mba” yang biasa ia gunakan untuk menyapa Ginsha yang memang lebih tua sedikit darinya.
“Loh kok dikasih lagi ke gua?” Ginsha jadi bingung. Padahal ia telah berusaha keras menutupi kekecewaannya karena kertas tersebut diambil oleh pemiliknya dan bukan dituju untuknya.
“Emang buat lo kok, gua cuman mau memastikan aja lo dah nerima dan baca.”

Ginsha diam seribu bahasa, entah apa yang akan ia utarakan. Tiba-tiba wajahnya memanas dan ada getaran aneh yang menghampiri hatinya.

“Udah jangan bengong aja, gua tunggu balasannya.” Kata Tinto sembari berlalu meninggalkan Ginsha yang hanya terbengong-bengong.

*********************************************************************************

#Tulisan ini saya bersembahkan untuk teman saya yang baru memadu cinta. Semoga kamu bisa merasakan indahnya cinta, manisnya rindu, cerianya tawa bersamanya, sampai akhirnya kalian bisa bertahan dalam senang, kesel, cinta, sayang, dongkol, sebel hingga pelaminan bahkan hingga tua. Seperti yang saya bilang ke teman saya, saya tidak akan memberikan selamat seperti orang lain, tapi saya berikan tulisan ini. Karena kamu teman, mengelitik pikiran liarku untuk bercerita#