(Serial si Gendut yang rada serius dikit)
Tidak ada yang special dengan tujuh bulan. Saya tidak sedang hamil dan akan nujuh bulanan lalu mengadakan pengajian biar anak yang ada dalam kandungan saya menjadi anak yang soleh,. Saya kan belum punya suami, jadi belum bisa mengandung.
Terus kenapa harus kasih judul 7 bulan? Karena banyak yang saya lewati selama 7 bulan ini. Atau dapat dikatakan 7 bulan yang lalu ada perubahan besar yang saya alami.
7 bulan yang lalu saya belum memiliki investasi apapun, sekarang setidaknya saya sudah memiliki hunian kecil bertingkat di bilangan Jakarta Timur. Meski masih lama akan saya tempati dan PPJB pun belum berlangsung, saya sudah cukup puas. Setidaknya hampir 5 tahun kerja ada hasilnya, meski rada terlambat juga yang untuk menghasilkan sesuatu untuk masa depan.
Maklum saya bukan seorang yang jago berencana. Tahu sendirikan impian saya cuman bisa jadi SLIM seperti Djarum Black Slim. Rencana untuk masa depan sendiri saya tidak memiliki. Target karir tidak ada, kapan menikah gimana alam, apalagi kapan memiliki anak, itu mah kuasa Tuhan. Jadi melakukan investasi dalam bentuk sebuah asset adalah hal yang luar biasa bagi saya. Wong tabungan aja tidak ada. Heran??? Rada ngaco??? Yah begitulah saya menjalani hidup, hanya untuk 1 HARI.
Besok yah gimana besok.
Oke kembali ke 7 bulan.
7 bulan yang lalu saya di-syok-kan oleh sebuah berita sore, Ibu saya dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa. Padahal paginya saya baru bertemu dan mengatakan :
“Sehat-sehat yah mak! Jangan sakit lagi! Cepat sembuh!”
Dia hanya menatap saya dengan mata berkaca seraya menjawab,
“iya De.”
Jujur, ada getaran lain yang saya bisa rasakan dari tatapan ibu saya. Tapi saya tidak bisa menerjemahkan getaran itu. Seperti kata Marcell, Firasat. Selama di kantor saya gelisah, tapi tidak tahu kenapa dan harus bagaimana. Saya hanya tertawa, tertawa dan tertawa.
Ibu saya pergi dengan senyumnya yang cantik. Yah harus diakui ibu saya memang cantik, kulitnya halus, wajahnya mulus, keriput di wajahnya tidak menandakan usianya sudah memasuki 60 tahun. Menarik lebih lama, begitulah wajah ibu saya.
Setelah melewati 7 bulan kepergiannya, saya masih tetap tidak bisa mengekspesikan perasaan yang ada. Hampa? Tidak juga! Sedih? Iya tapi sulit mengungkapkan kesedihan itu. Ikhlas? Iya mungkin hanya itu yang bisa saya jawab. Saya ikhlaskan kepergiaan ibu karena selalu teringat wajah senyumnya di hari terakhir.
Bagaimana saya melewati 7 bulan ini?
Saya tetap tertawa, berdiri dengan tegar dihadapan Bapak saya, tanpa banyak airmata yang keluar. Saya seperti mengganggap bahwa semuanya tetap sama. Minimal dalam sebulan saya mengunjungi makamnya, sekalian menemani bapak. Bila ada rasa kangen saya doakan dan mengirimkan surat Yassin. Hanya itu! Karena dalam pikiran saya hanya itu yang mampu saya perbuat.
Saya tidak mampu menangisinya. Saya tidak mampu meratapinya. Saya tidak mampu membayangkan kehidupan masa depan saya tanpa ibu saya. Saya tidak mampu berpikir bagaimana persiapan pernikahan saya suatu hari kelak. Saya tidak bisa kecewa karena nanti saat saya akan berumah tangga tidak ada di yang membimbing.
Saya jadi teringat, betapa hebohnya dia saat persiapan pernikahan abang saya. Sampai-sampai setiap bertemu dengan saya selalu berselisih pendapat. Saya ini memang anak pembrontak, selalu mendebat ibu saya. Tapi entah mengapa yang ada dipikiran saya setiap hari adalah bagaimana membuat dia senang.
Menemani dia jalan-jalan ke tempat yang tidak biasa ibu-ibu mengajak putrinya jalan-jalan.
Kami jalan-jalan ke Asemka-Kota, Mangga Dua, Jatinegara, Tanah Abang, pasar Senen atau pasar ular. Ke mall??duh susah ngajak dia kesana. Ga mau!
Pernah sekali waktu saya mengajaknya ke mall, Plaza Semanggi, mall terdekat dari kosan saya. Dengan niat hati ingin membelikan sesuatu untuk ibu dan bapak saya. Saya sudah mengajaknya mutar-mutar keliling-keliling tidak ada satu barang yang dia suka. Semua dia bandingkan,
“De, baju kayak gini mah di Tanah Abang banyak, lebih murah.”
“De, ini mahal amat mana bahannya biasa aja.”
Dan berbagai komentar yang ia lontarkan bahwa mangga dua, tanah abang memiliki barang yang lebih baik. Padahal kalau dirumah dia suka bilang,
“ih mama mah ga pernah belanja ke mall.”
Karena kalimat itu lah saya berniat mengajaknya ke mall.
Pernah lagi waktu itu, saya mendapatkan bonus dari kantor, lalu saya mengambil cuti untuk mengajak jalan-jalan. Saya tawarilah ibu hendak kemana.
“Mah, jalan-jalan yuk? Mama mo kemana?”
“Mo traktir?”
“Iya!”
“Boleh. Kita ke senen aja yuk, udah lama mama ga ke senen.”
Jangan mikir dia pengen ke Atrium Senen, dia pengennya ke Pasar Senen.
Kehilangan ibu bukan harus diratapi, mengasihani diri sendiri. No…no..no…black in action alias berkabung. Cukup diikhlaskan, didoakan dan dikenang hal-hal yang indah.
Karena begitu cara saya berpikir, hal-hal yang buruk tentang hubungan saya dengan ibu saya hilang begitu saja dari ingatan saya. Padahal ketika dia masih hidup, saya selalu mengingat hal-hal yang buruk terjadi diantara kami.
Cheers ^__^
0.000000
0.000000